Berita
30 June 2026, 07:22 WIB
Tim Redaksi Heritage
Digitalisasi 120 Naskah Kuno Pesantren Badridduja Resmi Rampung
Sebanyak 120 manuskrip dari Pondok Pesantren Badridduja, Kraksaan, resmi rampung didigitalisasi dan kini dapat diakses publik secara daring melalui portal Heritage Probolinggo.
Sebanyak 120 manuskrip dari Pondok Pesantren Badridduja, Kraksaan, resmi rampung didigitalisasi dan kini dapat diakses publik secara daring melalui portal Heritage Probolinggo.
Proses digitalisasi berlangsung selama tiga bulan dan melibatkan tim katalogisasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan bersama pengasuh pondok. Setiap lembar naskah dipindai pada resolusi tinggi, dibersihkan secara digital, lalu diberi metadata berupa judul, asal, bahasa, dan aksara.
Koleksi yang didigitalisasi mencakup beragam bidang keilmuan — mulai dari tafsir, fikih, tasawuf, hingga doa dan primbon. Sebagian besar ditulis dengan aksara Arab Pegon berbahasa Jawa, mencerminkan tradisi keilmuan pesantren di pesisir Probolinggo pada masa lampau.
Dengan rampungnya tahap ini, masyarakat, peneliti, dan pelajar dapat menelusuri naskah tanpa harus menyentuh fisik manuskrip yang rentan rusak. Langkah ini sekaligus menjadi upaya pelestarian warisan literasi daerah agar dapat dipelajari lintas generasi.
“Naskah-naskah ini adalah jejak peradaban yang harus kita rawat. Digitalisasi membuatnya abadi sekaligus terbuka bagi semua.”
— Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan
Proses digitalisasi berlangsung selama tiga bulan dan melibatkan tim katalogisasi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan bersama pengasuh pondok. Setiap lembar naskah dipindai pada resolusi tinggi, dibersihkan secara digital, lalu diberi metadata berupa judul, asal, bahasa, dan aksara.
Koleksi yang didigitalisasi mencakup beragam bidang keilmuan — mulai dari tafsir, fikih, tasawuf, hingga doa dan primbon. Sebagian besar ditulis dengan aksara Arab Pegon berbahasa Jawa, mencerminkan tradisi keilmuan pesantren di pesisir Probolinggo pada masa lampau.
Dengan rampungnya tahap ini, masyarakat, peneliti, dan pelajar dapat menelusuri naskah tanpa harus menyentuh fisik manuskrip yang rentan rusak. Langkah ini sekaligus menjadi upaya pelestarian warisan literasi daerah agar dapat dipelajari lintas generasi.
“Naskah-naskah ini adalah jejak peradaban yang harus kita rawat. Digitalisasi membuatnya abadi sekaligus terbuka bagi semua.”
— Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan